I.
Pedahuluan
Sebelum
penulis lebih lanjut menguraikan bagiaman pelaksanaan diakonia di Jemaat BNKP
Madala, tempat penulis menjalani masa pra PPL, maka ada baiknya kalau penulis
terlebih dahulu penulis menguraikan arti dari kata diakonia itu sendiri.
Secara
harafiah kata “diakonia” berarti memberi pertolongan atau pelayanan. Kata ini
berasal dari kata Yunani, yaitu diakonia (pelayanan), diakonein
(melayani), diakonos (pelayan).[1]
Bagi orang Yunani, diakonein dilihat sebagai pekerjaan rendahan, pekerjaan
budak. Sementara bagi orang Yahudi pekerjaan melayani tidak dilihat sebagai
sesuatu yang rendah, walaupun siapa yang dilayani turut menentukan artinya.
Sehingga dalam hukum Lewi 19:18 mencakup kesediaan saling melayani.[2]
Terlepas
daripada itu, menurut A. Noordegraaf bahwa diakonia bukan hanya berupa kegiatan
dan proyek besar, tetapi juga dapat beupa ungkapan sederhana dalam uluran
tangan, suatu tanda kasih antara sesama manusia.[3]
Sehingga pada akhirnya diakonia merupakan suatu ungkapan diri Jemaat Kristen.
Lalu
bagaimana dengan diakonia di Jemaat BNKP Madala? Apakah pelaksanaan diakonia di
Jemaat BNKP Madala sudah terlaksana secara efisien? Untuk menjawab pertanyaan
yang dimaksud, maka penulis dari makalah ini mencoba menguraikan kepada pembaca
bagaimana diakonia serta pelaksanaannya di Jemaat BNKP Madala dengan
berdasarkan pada hasil penelitian dan analisa lapangan melalui wawancara kepada
pendetaan Jemaat BNKP Madala serta warga Jemaat BNKP Madala yang telah penulis
lakukan sebelumnya.
II.
Diakonia di jemaat BNKP Madala
a.
Gambaran umum Jemaat BNKP Madala
Secara geografis, jemaat BNKP
Madala berada 1 KM dari pusat kota Gunungsitoli, 50 M dari jalan umum kalau
melewati jalan Diponegoro. Jemaat ini berada di wilayah desa Sisobahili dan
desa Sifalaete. Jemaat BNKP Madala juga hidup di tengah-tengah denominasi
Gereja, yakni: GBI Baithani, GKII, GNKPI,GKPS, AMIN dan juga agama Islam.[4]
Selain daripada itu, warga jemaat
BNKP Madala berasal dari berbagai latar-belakang adat/ kedaerahan. Dan menurut
data statistik jemaat BNKP Madala tahun 2010 bahwa jumlah warga jemaat BNKP
Madala sebanyak 974 orang yang terdiri dari laki-laki 477 orang dan perempuan
497 orang dari 236 kepala keluarga.
Dalam kehidupan keseharian warga
jemaat BNKP Madala ada yang bekerja sebagai PNS/TNI/POLRI (15%), Pegawai Swasta
(10%), Pengusaha (7%), Tukang/Pekerja (12%), Berladang/Berkebun (25%), beternak
(15%), nelayan (1%) dan pedagang (15 %).
b.
Dasar pelaksanaan Diakonia
Menurut Pendeta Jemaat BNKP Madala,
bahwa yang menjadi dasar jemaat di dalam melaksanakan diakonia ialah Firman
Tuhan dalam Alkitab[5]
dan Progaram Umum Pelayanan Jemaat BNKP Madala yang pada akhirnya dijabarkan
oleh komisi Diakonia.[6]
c.
Pelaku Diakonia
Setelah penulis melaksanakan
wawancara kepada salah seorang warga jemaat BNKP Madala. Maka hal yang penulis
temukan darinya ialah bahwa selama ini di Gereja BNKP Madala yang menjadi
pelaku daripada diakonia ini ialah komisis diakonia yang terdiri dari ketua,
sekretaris dan bendahara serta anggota-anggota komisi diakonia.[7]
Hal ini juga didukung oleh penjelasan pendeta jemaat BNKP Madala yang
menyatakan bahwa diakonia merupakan program yang disahkan oleh Majelis Jemaat
dalam PUPB dan dijabarkan oleh komisi diakonia jemaat. Selain daripada komisi
diakonia – menurut penuturannya- yang melaksanakan diakonia ialah
kepanitiaan-kepanitiaan yan dibentuk oleh majelis jemaat, di mana dalam program
kegiatannya, panitia memprogramkan kegiatan diakonia yang dalam pelaksanaannya
bekerja sama dengan komisi diakonia, SNK dan majelis jemaat.
d.
Sasaran Diakonia
Sasaran dari pelaksanaan diakonia
di Jemaat BNKP Madala ialah warga Jemaat BNKP Madala yang kondisinya kurang
mampu.[8]
Selain daripada itu, jemaat BNKP Madala juga tidak hanya mensasarankan
pelayanannya ke arah luar lingkungan jemaat, misalnya jemaat madala memberikan
santunan bagi panti-panti asuhan yang didirikan oleh BNKP.
e.
Program untuk Diakonia[9]
Program-program yang dilakukan oleh
komisi diakonia jemaat BNKP Madala dalam menyukseskan pelaksanaan diakonia
jemaat ialah:
1.
Mengadakan kebaktian diakonia 2 kali
setahun setelah paskah ke-2 dan natal ke-2.
2.
Mengkoordinir para donatur tetap untuk
diakonia, karena di Jemaat BNKP Madala ada warga jemaat yang memberikan bantuan
setiap bulan.
3.
Mengunjungi warga jemaat yang sudah lanjut
usia (hal ini dilaksanakanpada kegiatan hari-hari besar gerejawi) seraya
melaksanakan perjamuan ksih.
4.
Memberikan santunan bagi anak yatim
piatu, berupa uang sebesar Rp. 50.000 per bulan. Dan bagi janda sebesar Rp.
75.000, per bulan.
5.
Memberikan santunan bagi panti asuhan
Yapesma sebesar Rp. 200.000.
6.
Turut dalam situasi duka dan suka cita
yang dialami oleh warga jemaat.
7.
Mengumpulkan kolekte.
f.
Persepuluhan
Bagi jemaat Madala, persepuluhan
jemaat merupakan salah satu sumber kas gereja. Menurut sekretaris jemaat bahwa
persepuluhan yang diberikan oleh warga jemaat akan disasarankan berdasarkan
usul warga jemaat yang memberikan persepuluhan tersebut.[10]
namun hal ini berbeda dengan penjelasan pendeta jemaat BNKP Madala yang
menjelaskan bahwa persembahan persepuluhan ini disentrlkan dulu di tangan
bendahara, baru kemudian di arahkan ke bagian-bagian yang membutuhkan dana. Dan
biasanya persembahan persepuluhan ini lebih diarahkan pada pemenuhan biaya
belanja pendeta jemaat.
g.
Diaken
Menurut penjelasan pendeta Jemaat BNKP Madala kepada penulis,
bahwa jabatan diaken tidak ada di dalam jemaat BNKP Madala.[11]
III.
Analisa
Dari hasil penelitian di atas, maka
penulis menyatakan bahwa pelaksanaan diakonia di Jemaat BNKP Madala masih belum
efektif. Meskipun menurut pengakuan Pendeta Jemaat bersama dengan salah seorang
warga jemaat bahwa pelaksanaan diakonia di Jemaat BNKP Madala sudah berjalan
dengan baik dan efektif. Tentu muncul pertanyaan mengapa bisa seperti itu? Hal
ini menurut penulis sendiri dikarenakan oleh oknum yang melaksanakan diakonia gereja
diserahkan secara bulat kepada komisi diakonia Jemaat yang anggotanya terdiri
dari orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri, sehingga personil
dari komisi diakonia Jemaat BNKP Madala kurang aktif dalam mengupayakan
pelaksanaan diakonia. Dan hal ini dibuktikan dengan penjelasan pendetaan jemaat
kepada penulis yang menyatakan bahwa yang menjadi kendala pelaksanaan program
diakonia yaitu ketidak hadiran para pengurus diakonia.
Selain daripada itu, hal lain yang
menyebabkan mengapa penulis menyatakan bahwa pelaksanaan diakonia di jemaat
BNKP Madala, yaitu karena dana diakonia juga disasarankan pada momen-momen
sukacita, seperti kalau ada pesta pernikahan, dan lain-lain. Selain daripada
itu, hal yang menjadi alasan penulis mengatakan bahwa pelaksanaan diakonia di
jemaat BNKP Madala masih belum efektif ialah nilai nominal uang yang diberikan
kepada anak yatim pitu dan janda masih belum sesuai ketimbang dibandingkan
dengan dana-dana yang digunakan untuk membangun gedung gereja.
IV.
Saran
Menurut penulis, agar pelaksanaan diakonia
jemaat di BNKP Madala dapat berjalan dengan lebih efektif, maka sebaiknya
jangan dicurahkan saja di atas punggung komisi Diakonia gereja. Kemudian
anggota komisi diakonia seharusnya dipilih orang-orang yang bisa meluangkan
banyak waktunya. Selain daripada itu, hendaknya Jemaat BNKP Madala melaksanakan
diakonia tidak hanya dalam ruang lingkup pelayanan BNKP saja. Selain daripada
itu, nilai nominal uang yang diberikan kepada anak yatim-piatu dan janda
dinaikkan lagi mengingat situasi pasar sekarang ini.
[1] A.
Noordegraaf, ”Orientasi Diakonia Gereja”, (Jakarta:BPK-GM;2004), hlm. 2.
[2] Ibid,
hlm. 3.
[3] Ibid,
hlm. 4.
[4]
Laporan
pelayanan vikariat 1.
[5]
Tanpa menyebutkan ayat Alkitab.
[6]
Hasil wawancara dengan Pdt. Oklisman Gulo, STh. M.Min.
[7]
Hasil wawancara dengan A. Kiki Harefa, pada hari Senin pukul 17.30 wib.
[8]
Wawancara dengan Pdt. Oklisman Gulo,STh.M.Min.
[9]
Hasil wawancara dengan pdt. Oklisman Gulo, STh. Dan A. Kiki Harefa.
[10]
Hasil wawancara dengan Sekretaris jemaat, tgl 03-10-2011.
[11]
Hasil wawancara dengan Pdt. Oklisman Gulo, STh. M.Min. pada hari Selasa tanggal 09-10-2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar