Rabu, 23 Mei 2012

DIAKONIA DI JEMAAT BNKP MADALA


I.         Pedahuluan
Sebelum penulis lebih lanjut menguraikan bagiaman pelaksanaan diakonia di Jemaat BNKP Madala, tempat penulis menjalani masa pra PPL, maka ada baiknya kalau penulis terlebih dahulu penulis menguraikan arti dari kata diakonia itu sendiri.
Secara harafiah kata “diakonia” berarti memberi pertolongan atau pelayanan. Kata ini berasal dari kata Yunani, yaitu diakonia (pelayanan), diakonein (melayani), diakonos (pelayan).[1] Bagi orang Yunani, diakonein dilihat sebagai pekerjaan rendahan, pekerjaan budak. Sementara bagi orang Yahudi pekerjaan melayani tidak dilihat sebagai sesuatu yang rendah, walaupun siapa yang dilayani turut menentukan artinya. Sehingga dalam hukum Lewi 19:18 mencakup kesediaan saling melayani.[2]
Terlepas daripada itu, menurut A. Noordegraaf bahwa diakonia bukan hanya berupa kegiatan dan proyek besar, tetapi juga dapat beupa ungkapan sederhana dalam uluran tangan, suatu tanda kasih antara sesama manusia.[3] Sehingga pada akhirnya diakonia merupakan suatu ungkapan diri Jemaat Kristen.
Lalu bagaimana dengan diakonia di Jemaat BNKP Madala? Apakah pelaksanaan diakonia di Jemaat BNKP Madala sudah terlaksana secara efisien? Untuk menjawab pertanyaan yang dimaksud, maka penulis dari makalah ini mencoba menguraikan kepada pembaca bagaimana diakonia serta pelaksanaannya di Jemaat BNKP Madala dengan berdasarkan pada hasil penelitian dan analisa lapangan melalui wawancara kepada pendetaan Jemaat BNKP Madala serta warga Jemaat BNKP Madala yang telah penulis lakukan sebelumnya.


II.      Diakonia di jemaat BNKP Madala
a.      Gambaran umum Jemaat BNKP Madala
Secara geografis, jemaat BNKP Madala berada 1 KM dari pusat kota Gunungsitoli, 50 M dari jalan umum kalau melewati jalan Diponegoro. Jemaat ini berada di wilayah desa Sisobahili dan desa Sifalaete. Jemaat BNKP Madala juga hidup di tengah-tengah denominasi Gereja, yakni: GBI Baithani, GKII, GNKPI,GKPS, AMIN dan juga agama Islam.[4]
Selain daripada itu, warga jemaat BNKP Madala berasal dari berbagai latar-belakang adat/ kedaerahan. Dan menurut data statistik jemaat BNKP Madala tahun 2010 bahwa jumlah warga jemaat BNKP Madala sebanyak 974 orang yang terdiri dari laki-laki 477 orang dan perempuan 497 orang dari 236 kepala keluarga.
Dalam kehidupan keseharian warga jemaat BNKP Madala ada yang bekerja sebagai PNS/TNI/POLRI (15%), Pegawai Swasta (10%), Pengusaha (7%), Tukang/Pekerja (12%), Berladang/Berkebun (25%), beternak (15%), nelayan (1%) dan pedagang (15 %).
b.      Dasar pelaksanaan Diakonia
Menurut Pendeta Jemaat BNKP Madala, bahwa yang menjadi dasar jemaat di dalam melaksanakan diakonia ialah Firman Tuhan dalam Alkitab[5] dan Progaram Umum Pelayanan Jemaat BNKP Madala yang pada akhirnya dijabarkan oleh komisi Diakonia.[6]
c.       Pelaku Diakonia
Setelah penulis melaksanakan wawancara kepada salah seorang warga jemaat BNKP Madala. Maka hal yang penulis temukan darinya ialah bahwa selama ini di Gereja BNKP Madala yang menjadi pelaku daripada diakonia ini ialah komisis diakonia yang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara serta anggota-anggota komisi diakonia.[7] Hal ini juga didukung oleh penjelasan pendeta jemaat BNKP Madala yang menyatakan bahwa diakonia merupakan program yang disahkan oleh Majelis Jemaat dalam PUPB dan dijabarkan oleh komisi diakonia jemaat. Selain daripada komisi diakonia – menurut penuturannya- yang melaksanakan diakonia ialah kepanitiaan-kepanitiaan yan dibentuk oleh majelis jemaat, di mana dalam program kegiatannya, panitia memprogramkan kegiatan diakonia yang dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan komisi diakonia, SNK dan majelis jemaat.
d.      Sasaran Diakonia
Sasaran dari pelaksanaan diakonia di Jemaat BNKP Madala ialah warga Jemaat BNKP Madala yang kondisinya kurang mampu.[8] Selain daripada itu, jemaat BNKP Madala juga tidak hanya mensasarankan pelayanannya ke arah luar lingkungan jemaat, misalnya jemaat madala memberikan santunan bagi panti-panti asuhan yang didirikan oleh BNKP.
e.       Program untuk Diakonia[9]
Program-program yang dilakukan oleh komisi diakonia jemaat BNKP Madala dalam menyukseskan pelaksanaan diakonia jemaat ialah:
1.      Mengadakan kebaktian diakonia 2 kali setahun setelah paskah ke-2 dan natal ke-2.
2.      Mengkoordinir para donatur tetap untuk diakonia, karena di Jemaat BNKP Madala ada warga jemaat yang memberikan bantuan setiap bulan.
3.      Mengunjungi warga jemaat yang sudah lanjut usia (hal ini dilaksanakanpada kegiatan hari-hari besar gerejawi) seraya melaksanakan perjamuan ksih.
4.      Memberikan santunan bagi anak yatim piatu, berupa uang sebesar Rp. 50.000 per bulan. Dan bagi janda sebesar Rp. 75.000, per bulan.
5.      Memberikan santunan bagi panti asuhan Yapesma sebesar Rp. 200.000.
6.      Turut dalam situasi duka dan suka cita yang dialami oleh warga jemaat.
7.      Mengumpulkan kolekte.
f.       Persepuluhan
Bagi jemaat Madala, persepuluhan jemaat merupakan salah satu sumber kas gereja. Menurut sekretaris jemaat bahwa persepuluhan yang diberikan oleh warga jemaat akan disasarankan berdasarkan usul warga jemaat yang memberikan persepuluhan tersebut.[10] namun hal ini berbeda dengan penjelasan pendeta jemaat BNKP Madala yang menjelaskan bahwa persembahan persepuluhan ini disentrlkan dulu di tangan bendahara, baru kemudian di arahkan ke bagian-bagian yang membutuhkan dana. Dan biasanya persembahan persepuluhan ini lebih diarahkan pada pemenuhan biaya belanja pendeta jemaat.
g.      Diaken
Menurut penjelasan  pendeta Jemaat BNKP Madala kepada penulis, bahwa jabatan diaken tidak ada di dalam jemaat BNKP Madala.[11]
III.   Analisa
Dari hasil penelitian di atas, maka penulis menyatakan bahwa pelaksanaan diakonia di Jemaat BNKP Madala masih belum efektif. Meskipun menurut pengakuan Pendeta Jemaat bersama dengan salah seorang warga jemaat bahwa pelaksanaan diakonia di Jemaat BNKP Madala sudah berjalan dengan baik dan efektif. Tentu muncul pertanyaan mengapa bisa seperti itu? Hal ini menurut penulis sendiri dikarenakan oleh oknum yang melaksanakan diakonia gereja diserahkan secara bulat kepada komisi diakonia Jemaat yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri, sehingga personil dari komisi diakonia Jemaat BNKP Madala kurang aktif dalam mengupayakan pelaksanaan diakonia. Dan hal ini dibuktikan dengan penjelasan pendetaan jemaat kepada penulis yang menyatakan bahwa yang menjadi kendala pelaksanaan program diakonia yaitu ketidak hadiran para pengurus diakonia.
Selain daripada itu, hal lain yang menyebabkan mengapa penulis menyatakan bahwa pelaksanaan diakonia di jemaat BNKP Madala, yaitu karena dana diakonia juga disasarankan pada momen-momen sukacita, seperti kalau ada pesta pernikahan, dan lain-lain. Selain daripada itu, hal yang menjadi alasan penulis mengatakan bahwa pelaksanaan diakonia di jemaat BNKP Madala masih belum efektif ialah nilai nominal uang yang diberikan kepada anak yatim pitu dan janda masih belum sesuai ketimbang dibandingkan dengan dana-dana yang digunakan untuk membangun gedung gereja.


IV.   Saran
Menurut penulis, agar pelaksanaan diakonia jemaat di BNKP Madala dapat berjalan dengan lebih efektif, maka sebaiknya jangan dicurahkan saja di atas punggung komisi Diakonia gereja. Kemudian anggota komisi diakonia seharusnya dipilih orang-orang yang bisa meluangkan banyak waktunya. Selain daripada itu, hendaknya Jemaat BNKP Madala melaksanakan diakonia tidak hanya dalam ruang lingkup pelayanan BNKP saja. Selain daripada itu, nilai nominal uang yang diberikan kepada anak yatim-piatu dan janda dinaikkan lagi mengingat situasi pasar sekarang ini.


[1] A. Noordegraaf, ”Orientasi Diakonia Gereja”, (Jakarta:BPK-GM;2004), hlm. 2.
[2] Ibid, hlm. 3.
[3] Ibid, hlm. 4.
[4]                                           Laporan pelayanan vikariat 1.
[5] Tanpa menyebutkan ayat Alkitab.
[6] Hasil wawancara dengan Pdt. Oklisman Gulo, STh. M.Min.
[7] Hasil wawancara dengan A. Kiki Harefa, pada hari Senin pukul 17.30 wib.
[8] Wawancara dengan Pdt. Oklisman Gulo,STh.M.Min.
[9] Hasil wawancara dengan pdt. Oklisman Gulo, STh. Dan A. Kiki Harefa.
[10] Hasil wawancara dengan Sekretaris jemaat, tgl 03-10-2011.
[11] Hasil wawancara dengan Pdt. Oklisman Gulo, STh. M.Min. pada hari Selasa  tanggal 09-10-2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar